Resume Artikel Ilmiah “Malay-javanese communication in social media”

 


Artikel Ilmiah berjudul “Malay-javanese communication in social media” yang ditulis oleh Karim Harun dan Maslida Yusof serta terbit di Jurnal Komunikasi: Malaysian Journal of Communication ini membahas penggunaan bahasa Jawa oleh komunitas Jawa di Malaysia dalam komunikasi sehari-hari dan bagaimana media sosial, khususnya WhatsApp, mempengaruhi perubahan dalam pola komunikasi mereka. Meskipun bahasa Jawa, khususnya ragam ngoko, masih digunakan, pengaruh bahasa Melayu yang kuat sebagai bahasa nasional dan resmi Malaysia telah menyebabkan penurunan penggunaan bahasa Jawa di kalangan generasi ketiga komunitas Jawa.

Penelitian ini menunjukkan bahwa banyak anggota komunitas Jawa generasi ketiga lebih sering menggunakan bahasa Melayu dalam interaksi sehari-hari, mengingat pengaruhnya yang dominan. Namun, kemunculan media sosial telah memberikan platform baru bagi mereka untuk menggunakan kembali bahasa Jawa. Aplikasi seperti WhatsApp memungkinkan mereka untuk berkomunikasi dalam bahasa Jawa, terkadang diselingi dengan bahasa Melayu atau bahasa lain seperti Inggris dan Arab, melalui proses penukaran kode.

Penukaran kode ini menjadi fenomena yang menarik, karena penutur sering kali menggabungkan kata-kata dari dua atau lebih bahasa dalam satu percakapan. Dalam konteks ini, bahasa Melayu sering menjadi bahasa matriks, atau bahasa dominan, sementara bahasa Jawa berfungsi sebagai bahasa sisipan. Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam komunikasi verbal tetapi juga dalam percakapan di media sosial, di mana struktur komunikasi tertulis meniru komunikasi lisan dengan penggunaan kolokial dan karakteristik bahasa lisan lainnya.

Kajian ini menggunakan pendekatan etnografi untuk mengamati komunikasi dalam sebuah grup WhatsApp yang terdiri dari anggota komunitas Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penukaran kode terjadi secara alami dalam percakapan sehari-hari mereka, dengan bahasa Melayu mendominasi sebagian besar percakapan, meskipun ada juga segmen percakapan yang sepenuhnya menggunakan bahasa Jawa.

Selain faktor umur, identitas juga memainkan peran penting dalam pilihan bahasa. Banyak orang Jawa yang lebih muda memilih menggunakan bahasa Melayu karena bahasa ini dianggap lebih modern dan berhubungan dengan identitas nasional Malaysia. Di sisi lain, bahasa Jawa sering dianggap sebagai bahasa orang kampung atau kurang berpendidikan. Penelitian ini menekankan pentingnya media sosial dalam melestarikan bahasa Jawa di kalangan generasi muda, meskipun tantangan besar tetap ada dalam mempertahankan penggunaan bahasa ini di tengah arus dominasi bahasa Melayu.

Dengan demikian, artikel ini menyimpulkan bahwa media sosial telah membuka peluang baru bagi revitalisasi bahasa Jawa, meskipun dalam bentuk yang telah dipengaruhi oleh dominasi bahasa Melayu dan fenomena penukaran kode yang terjadi di kalangan komunitas bilingual ini.

Komentar